Skip to content

Baru Lihat, Udah Merasa Cocok: Gimana Psikologi Branding Bekerja?

Pernah buka website sebuah brand terus langsung mikir, “Wah, ini gue banget”?

Lu belum baca semuanya. Tapi foto, warna, dan bahasanya sudah memberi kesan tertentu.

Dari situ, lu mulai membayangkan produknya bakal seperti apa dan siapa yang biasa memakainya. Kesan awal seperti ini bisa jadi pintu buat memahami psikologi branding.

Desain lu mengirim sinyal

Bayangin satu brand memakai foto studio yang bersih, warna lembut, dan tulisan yang tenang.

Brand lain memakai foto konser, warna kontras, dan bahasa yang lebih berani.

Keduanya bisa menarik, tapi kesan yang sampai ke orang berbeda. Makanya, desain perlu disesuaikan dengan karakter brand dan orang yang ingin lu jangkau.

Jangan buru-buru ikut tampilan yang sedang ramai kalau ternyata nggak cocok dengan produk lu.

Warna nggak punya satu jawaban pasti

Lu mungkin pernah dengar kalau biru berarti kepercayaan atau merah berarti keberanian.

Itu bisa jadi bahan pertimbangan, tetapi respons orang juga dipengaruhi konteks, budaya, dan pengalaman mereka.

Coba lihat warna bersama elemen lain: foto, font, tulisan, dan kemasan. Apakah semuanya memberi kesan yang lu inginkan?

Jangan bikin calon pelanggan menebak

Kadang orang ragu karena informasi yang mereka butuhkan sulit ditemukan.

Harga nggak jelas, penjelasan produk terlalu umum, atau cara pesan tersembunyi. Akhirnya, mereka harus mengeluarkan usaha lebih buat memahami bisnis lu.

Coba minta teman yang belum mengenal bisnis lu membuka websitenya. Lihat bagian mana yang membuat mereka bingung.

Tepati kesan yang sudah lu bangun

Kalau brand lu menjanjikan proses yang gampang, pemesanannya perlu terasa gampang. Kalau komunikasinya hangat, pelayanan juga sebaiknya begitu.

Desain membantu membentuk harapan. Pengalaman setelahnya menentukan apakah harapan itu terpenuhi.

Jadi, pikirkan juga apa yang pelanggan rasakan setelah klik tombol pesan. Di situ, kesan tentang brand lu terus terbentuk.

Contact